"Apakah akan kupaksa tangan ini menorehkan larat-larat aksara,
sedang hati dan pikiran tak menginginkannnya?

Jika demikian, apa bedanya diriku dengan mesin pencetak yang tak punya hati tak punya kehendak?"

Tampilkan postingan dengan label cerita langit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita langit. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 April 2010

malam datang terlalu dini _

"malam datang terlalu dini,"

sepenggal kalimat itu pernah kuucap beberapa waktu lalu. tak ada makna luar biasa. itu sekedar ekspresi betapa 'waktu' merupakan sebuah ancaman serius akan eksistensi di muka bumi ini.

betapa tidak?!
ia datang, melaju dengan begitu cepatnya. berhenti? sama sekali tidak. padahal kita membutuhkan jeda dalam rancang konstruktif ke-diri-an kita. kita memerlukan beberapa detik waktu anta untuk merenung untuk berpikir untuk merancang strategi meniti jalan kehidupan yang mungkin akan sangat terjal.

ia dengan sangat sadis menggilas apa saja yang tak berjalan seiring dengannya.

ia menggerus setiap renik masa lalu. menjadikannya sebatas memori. hanya itu.

sampai transkripsi ini kutulis, waktu menjadi semacam fobia yang terus menghantui setiap detik dan detak jantungku, dan mungkin juga sebagian kita.

Selasa, 23 Maret 2010

.:: imaji hujan







kehadiranmu bersamaan dengan datangnya hujan masih menyisakan sepenggal pertanyaan.

apakah kau yang mengirim hujan itu padaku?
meski itu yang kau katakan, aku ragu --dan bahkan saat ini mulai tak memedulikan hal itu.





&^$^$#&^)(*&@

hujan yang kau kirimkan ternyata tak seperti yang kuinginkan. benar bahwa kau ingin menurunkan rintik air itu untuk menyejukkanku.
namun kenyataannya tak demikian. hujan itu menyapaku dengan tak ramah. titik-titik air yang jatuh ternyata tak membentuk harmonisasi seperti yang kau janjikan. belum lagi kilatan petir yang menyayat langit serta dentumannya yang menggegar. sungguh memekakkan telinga siapa saja yang ada di sekelilingnya. alih-alih tergugah menikmatinya, aku malah makin meringkuk dalam dingin dan ketakutan hujan yang kau sampaikan.

untunglah, hujanmu reda segera.

bukan! bukan reda. namun menghilang entah ke mana. tak ada satupun jejak yang menandakan hujan.

peristiwa itu membuatku ragu dan mempertanyakan apakah hujan yang kau sampaikan itu ada. seperti halnya aku meragukan relasi kita yang mungkin memang tak nyata.

entahlah!

Rabu, 30 Desember 2009

salamku padamu, langitku





seperti yang kuduga sebelumnya, kau tak menyapaku malam ini, langit. apa kau marah? entahlah. pun kalau memang marah, terserah! toh aku tak punya hak untuk melarang hal itu.

benar bahwa aku memakimu beberapa hari lalu. tapi aku punya alasan yang kuat; kau berkhianat.
aku sudah pernah mengatakan kalau aku tak suka dibohongi. eh, kau melakukannya juga. kau mengatakan akan menurunkan hujan yang menyejukkan. omong kosong. hujan itu memang ada, namun itu hujan air mata. air mata hujan yang kau tumpahkan saat kau membutuhkan.

akhirnya terjadi apa yang benar-benar aku takutkan. ya, aku tak terlalu cemas jika kau berdusta padaku. yang aku khawatirkan adalah ketika aku sudah tak percaya lagi padamu.

kau tahu, langitku, aku nyaman tanpa hujan. toh selama ini juga demikian.

apakah aku akan kesepian? maaf, kau salah jika berpikir seperti itu.
aku damai dengan diriku sendiri. tanpa hujan, bahkan tanpa langit sekalipun.

salam,
bumi

Rabu, 16 Desember 2009

salam untuk bulan

sudah beranjak pagi. sebentar lagi, mentari akan menggantikanmu mengiringi bumi

aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. kau memang tak seberapa indah. ya, masih seperti biasa. kau melakukan tugasmu menerangi bumi yang telah memerah ketika matahari sedang istirah. dan aku masih saja terus mengagumimu. entah karena apa, aku tak tahu.

kau sedikit berbeda malam ini. kau menjadi begitu dingin, bulan. benar bahwa kau tetap setia. masih tetap bercahaya. tapi, entahlah! mungkin saja aku yang tidak merasa nyaman denganmu. bisa jadi juga sebaliknya, kau tidak menginginkan kehadiranku sedari senja tadi.

aku sedang tak ingin berbincang denganmu saat ini. mungkin esok. atau malah tidak sama sekali.

salam buatmu, bulanku.

Kamis, 10 Desember 2009

aku dan langitku: cerita hujan (1)

--buat seorang teman yang sedang dibuai 'hujan'

kusampaikan terima kasih padamu, langit. sekian putaran waktu kita telah menjalin hubungan yang begitu mesra. hanya saja relasi kita ini mesti diakhiri sampai di sini. apa alasannya? akan kujelaskan nanti.

* * *

aku yakin kau masih ingat, di suatu senja yang jingga kau menyapaku. aneh. ya, terlampau aneh karena setelah sekian lama kita bertemu muka, baru kali ini dari mulutmu keluar kata.
”bumi, maukah kau menampung hujanku?” begitu katamu.
hujan. kata itu juga tak begitu akrab di telingaku. namun juga tak sepenuhnya asing. aku pernah sesekali mendengar dari cerita leluhurku bahwa ada sesuatu, cerita, peristiwa, atau apalah yang dinamakan hujan.

menurut kabar yang aku dengar, hujan bisa datang dengan bermacam cara yang tak terduga. begitu juga dengan akibat yang ditimbulkannya. kadang dia menyapa dengan begitu lembut. setiap apa yang disentuh serasa dibelai oleh tangan-tangan halus yang memanjakan. namun, dia juga bisa datang dengan kemarahan serta raut wajah suram yang menghancurkan.

hujan mampu menggugah bermacam perasaan. sejuk. hangat. damai. gelisah. marah. ya, titik-titik air itu mampu meyentuh setiap sisi kehidupan, personal maupun komunal.

ah, kau membuatku makin penasaran saja, langit. membuatku makin ingin membuktikan apakah hujan yang kau katakan sama dengan hujan yang pernah dikisahkan.

...bersambung

Kamis, 19 November 2009

salam buat hujan




hujan. aku suka hujan. selalu mampu memberi sensasi luar biasa.

entah kenapa aku belum ingin hujan ini berhenti. coba dengarkan harmonisasi yang dihasilkannya! titik-titik air itu membentuk alunan musikalisasi yang begitu merdu. dan di titik ini pula muncul pertanyaan, kekuatan Maha Dahsyat apakah yang mampu menciptakan orkestrasi kehidupan dalam hujan?

hujan adalah kesejukan. aku sendiri heran, setelah sekian lama, setelah sekian generasi anak manusia, ia tak juga mau berhenti. tetap setia membasuh wajah jutaan makhluk di bumi ini.

yang belum dapat aku pahami sampai saat ini adalah, kenapa masih saja muncul umpatan yang mengiringi kehadirannya? bukankah hujan menghidupkan? ah, manusia memang sering tak tahu diri. pernah suatu ketika ada yang mengatakan, "hujan yang menyebalkan! hujan juga menghancurkan!"
hujan adalah kesucian. manusia tak berhak apapun atas diri hujan. bukankan kehidupan manusia juga dirangkai atas titik-titik air hujan?

terima kasih kuucapkan padamu, hujan. Tak perlu kau hirau suara parau mereka. hadirlah sesering yang kau inginkan! hujan adalah kedamain..

salam, hujan!