"Apakah akan kupaksa tangan ini menorehkan larat-larat aksara,
sedang hati dan pikiran tak menginginkannnya?
Jika demikian, apa bedanya diriku dengan mesin pencetak yang tak punya hati tak punya kehendak?"
Tampilkan postingan dengan label untitled. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label untitled. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Januari 2010
untitled (4)
bahwa kau menarik perhatianku. aku akui hal itu. ini bukan tentang daya tarik fisik, lektur berpikir yang eklektik, gaya bicara, atau apalah namanya. ini tentang dirimu. tentu saja dengan segala kompleksitas yang menyertainya.
mungkin kesalahan terbesar yang kulakukan adalah ketika aku memperkenalkan diriku padamu. aku memperkenalkan diri bukan sebagai orang yang kupikirkan sekarang. hingga pada akhirnya relasi kita terjalin tak seperti yang kuinginkan.
aku bukanlah orang yang agresif, apalagi bisa dengan begitu heroik memperjuangkan segenggam harapan. pun sama sekali tak ingin memaksakan. itu hanya perilaku vandalis yang akut. alih-alih berteriak lantang menyuarakan keyakinan, aku lebih memilih berdiam diri sambil mengelola ruang dan waktu kita yang semakin berjarak. tapi aku juga bukan seorang melankolik yang cukup puas dalam lelap dekap fantasi yang mungkin saja entah. terkesan kontradiktif. malah sedikit ambigu. ya, mungkin akulah ambiguitas itu.
betapapun kita asyik bercengkerama dengan mesranya, jarak yang aku sebutkan sebelumnya tidak dapat kita abaikan begitu saja. cukuplah kemudian aku mengagumimu dalam hubungan yang hangat namun aneh ini.
dan seperti biasa, aku tak terlalu pandai mendeskripsikan perasaan lewat ungkapan kata-kata verbal lisan. oleh karenanya, aku lebih memilih menulis transkripsi ini sebagai media yang cukup impresif untuk menjalin komunikasi denganmu. maski kuakui, aku tak yakin kau akan mengerti. apa lagi memahami. toh aku tak memiliki pretensi apapun atas tulisan ini.
namun jangan menganggap aku seorang altruis sejati. tidak. aku tak semulia yang kau kira.
Selasa, 17 November 2009
Untitled (1)
Aku baru saja mehabiskan sebatang rokok ketika memutuskan untuk meraih secarik kertas, lalu mengguratkan kata-kata dan berkeinginan untuk menuliskan apa yang kurasakan saat ini. apakah kamu bersedia menjadi teman berceritaku? Aku harap dari mulutmu, atau paling tidak, hatimu, akan keluar kata, ya.
Malam ini makin larut. Dan kamu tahu, aku menyukai nuansanya. Sunyi. Ya, aku menyukai kesunyian. Memberiku sensasi yang begitu berbeda.
Sunyi. Dan bukan gelap. Keduanya berbeda. Aku yakin kamu tahu itu. Dan akan dianggap ngelantur kalau aku mengatakan malam ini gelap. Bagaimana aku bisa bilang gelap kalau lampu di ruangan ini menghidupiku sejak sore tadi. Sunyi, meski alunan musik dari tape recorder yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat dudukku mengaluarkan bunyi-bunyi yang teramat asing buatku --paling tidak, untuk malam ini.
Entah berapa lembar kertas yang telah aku buang ke temat sampah. Tulisan tanganku memang tidak terlampau bagus. Tapi bukan itu masalahnya. Bukan pula karena aku tak mampu menumpahkan apa yang ada di pikiran dan hatiku. Sama sekali bukan. Aku hanya ingin agar apa yang aku tulis dapat dengan mudah engkau pahami. Seperti kau ketahui, aku selalu ingin memberi yang terbaik buatmu.
Maaf, kalau aku malah membicarakan malam, kertas, sampai tae recorder. Meskipun sebenarnya mereka bukannya tidak penting. Mereka pulalah yang menggerakkanku untuk menceritakan sesuatu kepadamu. Sepenggal cerita kehidupanku. Sepenggal cerita yang sebelumnya tidak pernah aku bagi dengan orang lain.
Aku masih ragu harus memulainya dari mana. Yang pasti, malam ini, ceritaku harus hadir di lembar kertas ini. Kertas. Kenapa kertas?
Aku bukan orang yang pandai berkata-kata verbal. Aku takut. Aku tidak terlalu nyaman dengan itu semua. Itulah yang membuatku lebih suka bercerita padamu lewat goresan pena. Sedikit mengutip ungkapan dari seseorang yang kuuanggap sebagai guru, "yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlau bersama angin."
Sebentar. Aku merasa kurang nyaman dengan posisi dudukku saat ini.
Kursi ini masih sama dengan kursi yang aku duduki berhari-hari sebelumnya. Masih sama dengan kursi yang aku duduki berhari-hari yang lalu ketika mulai muncul keinginan untuk berbagi cerita denganmu.
Sebuah meja kecil di depanku. Di atasnya berserak buku, plastik, gelas, dan sebungkus rokok yang isinya tinggal bebrapa batang. Dan yang terakhir aku sebut, tidak pernah mengeluh ketika berhari-hari kupaksa untuk menemaniku. Ya berhari-hari. Aku bukan orang yang cerdas, yang dalam satu putaran waktu dapat mengahasilkan sebuah tulisan untuk dikisahkan kepada orang lain --meski kamu bukan orang lain bagiku.
Huft..
Jam dinding yang menggantung di tembok bercat putih ini sudah menunjukkan pukul 12.55. Malam ini kian larut. Aku sudah mengantuk. Aku kira kau pun begitu. Tapi bukankah tadi aku ingin mengisahkan sesuatu kepadamu? Baiklah.
Aku tidak akan mengingkari janji. Seperti kata orang-orang di luar sana, janji adalah hutang. Dan aku akan membayarnya. Tapi tidak untuk malam ini. Mataku sudah tidak lagi mau diajak kompromi. Jadi, akan aku lanjutkan esok. Aku janji. Percayalah!
Untitled (2)
Seperti yang telah aku katakan sebelumnya, aku akan menuntaskan janjiku padamu. Dan sekarang sudah tak lagi malam, tapi pagi. Maka kantuk tak lagi bisa kujadikan sebagai alasan yang akan menggagalkan semuanya.
Masih ingatkah kamu apa yang aku janjikan kemarin??
Ya, aku berjanji akan menceritakan sepenggal kisah hidupku padamu. Sepenggal perjalalan kehidupan yang belum pernah aku bagi dengan siapapun. Kamu bisa mempercayaiku. Dan kalau masih juga belum bisa percaya, aku memaksa kamu untuk percaya padaku.
Sampai saat ini, aku belum bisa dengan mudah percaya kepada orang lain. tentu saja yang aku maksud adalah kepercayaan dalam berbagi hal-hal yang sifatnya personal. Aku berpikir bahwa aku memliki ruang kehidupan yang teramat pribadi. Sebuah ruang di mana aku memiliki kebebasan, kemerdekaan yang absolut untuk mengendalikan dan menentukan pergulatan dialektika di dalamya. ruang di mana aku memiliki kekuasaan yang penuh. Menurutku itu adalah hak pribadi yang paling asasi. Oleh karenanya, tidak seorang pun kuijinkan untuk menjamahnya.
Alasan lain, sederhana saja, aku bukan orang yang tidak suka mencampuri urusan orang lain kalau tidak diminta. Sebaliknya, tak ada seorangpun yang boleh dengan seenaknya mencampuri urusan pribadiku.
Mungkin aku sedang mengidap apa yang dikatakan Fromm sebagai self-centeredness syndrom. Apapun istilahnya, itu tidak penting. Aku sedang mejalankan apa yag aku yakini. Bukankah keyakinan merupakan hal yang menjadi dasar pegangan kehidupan? Aku yakin dalam hal ini kamu setuju denganku.
Sekarang kamu sudah memahamai kenapa selama ini aku belum pernah membagi kisah ini dengan siapaun. Aku ulangi, dengan siapapun.
Dan sepertinya, aku memang belum juga bersedia membaginya dengan siapapun. Dan itu juga, maaf, berlaku untukmu. Kenapa? Karena kamu belum mampu meyakinanku kenapa mesti mempercayaimu. Sekali lagi, aku minta maaf.. ^_^
Sabtu, 31 Oktober 2009
Untitled (3)
Sudah beranjak pagi. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk berkata jujur padamu.
Beberapa hari yang lalu aku menjanjikan sesuatu. Seutas janji yang akhirnya tidak kunjung aku rangkai. Maaf. Tapi aku yakin kamu pasti sudah menduga hal itu. Bukan kali pertama ini aku ingkar. Ya, aku sudah berbohong untuk kesekian kali. Dan untuk kesekian kali itu pula, kau kembali menaruh kepercayaan padaku. Entah apa alasannya.
Semestinya engkau marah. Kau berhak untuk marah. Berkali-kali kau dikecewakan oleh orang yang sama.
Timbul pertanyan dalam benakku, sebenarnya siapa yang tolol dalam hal ini.
Yang pasti, aku ingin sekali saja tidak membuatmu kecewa. Dan menurutku, sekaranglah waktunya.
Sebelumnya akan kukatakan kenapa akhirnya aku memutuskan untuk menulis traskripsi ini.
Sobat, kau memang tidak pernah memaksaku untuk hal ini. Tidak pernah memaksaku untuk berkata yang sejujurnya. Seperti biasa, kau hanya diam. Menunggu. Dan ketika sampai pada titik kebosanan, kau hanya akan berkata, ”Sudahlah, itu hakmu untuk mengatakan atau tidak mengatakan.” Hanya itu reaksi yang selalu kau tunjukkan. Hanya itu. Aku yakin berkali-kali kau kecewa. Meski kau berusaha keras untuk menutupinya, tetap saja aku tahu. Maaf sobat, kau terlalu jujur, meski untuk sekedar menyembunyikan kekecewaan yang kau rasakan.
Dengan semua hal yang aku katakan tersebut, mestinya tidak ada kondisi yang bisa menjadi semacam tekanan untukku: kewajiban untuk menuntaskan janjiku. Kenapa? Seperti kukatakan sebelumnya, kau tidak memaksa. Ya, sekali pun tidak.
Namun, perlu kau tahu, justru kerelaanmu itulah yang akhirnya mampu memaksaku untuk mengungkapkan hal ini. Kerelaan kau tunjukkan itu justru memberi tekanan yang luar biasa padaku.
Jangan berkesimpulan kalau aku ikhlas. Sama sekali tidak. Aku melakukan ini karena terpaksa. Keterpaksaan yang didorong oleh keikhlasan.
Keterpaksan dan keikhlasan. Keduanya seakan sangat kontradiktif. Tapi tidak bagiku. Paling tidak untuk pagi ini. Pun kalau benar keduanya bertentangan, itu hanya masalah istilah dan definisi yang bisa jadi terlampau subjektif. Aku tidak mau membicarakan subjektivitas itu lebih lanjut. Sama sekali itu tidak penting.
Aku akan membayar lunas hal yang aku janjikan padamu.
Tapi, apakah kau akan percaya?
Seperti yang aku katakan, kau terlalu jujur, sedangkan aku berada di kutub sebaliknya. Itu juga yang membuat kepercayaan sulit tumbuh dalam relasi antara kita berdua. Berulang kali aku membuatmu kecewa. Dan itu juga yang terjadi pagi ini. Seperti tidak tahu aku saja...
Langganan:
Postingan (Atom)
