"Apakah akan kupaksa tangan ini menorehkan larat-larat aksara,
sedang hati dan pikiran tak menginginkannnya?
Jika demikian, apa bedanya diriku dengan mesin pencetak yang tak punya hati tak punya kehendak?"
Tampilkan postingan dengan label note. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label note. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 September 2010
.:: Cukuplah Sedikit Memaki
Nama binatang berkaki empat itu hampir saja melompat keluar dari mulutmu. Untunglah, dia masih merasa nyaman dalam dekap hangat hati dan emosi.
Saat-saat emosional bisa jadi momen yang fantastis. Betapa tidak. Kita dihadapkan pada semacam energi yang entah apa namanya. Energi diam sekaligus membara. Pernyataan ini terkesan kontradiktif. Namun aku masih belum menemukan istilah yang pas sebagai padanannya.
Di titik itulah ada penat yang serta-merta mesti dikeluarkan. Dan memang ekspresinya macam-macam. Dari mulai tidur, terpekur, hingga ledakan beraneka tindak dan kata-kata.
Itulah manusia, kawan. Jadi tak perlu kau mencaci andai kukeluarkan kata maki. Kita sama. Ya. Sama sekali tak beda. Lalu apa hakku melarang-larang dirimu? Ah, ada-ada saja.
Salam,
Senin, 06 September 2010
_ bukan hasrat menguasai. hanya ingin mengabdi,
Sepenggal pernyataan yang menurutku konyol itu masih saja terngiang. Ini bukan tentang apa pretensi dibalik kata-kata itu. Namun, lebih kepada alasan kenapa kau mengucapkannya.
Bahwa konsep pengabdian itu kau pahami, kau yakini, dan kau jalankan, aku tahu. Sedari dulu kau memang begitu: percaya bahwa kebahagiaan sejati akan lahir dari kesucian rahim pelayanan serta ketulusan segenggam pengabdian.
Meski kau bukan seorang masokhis -- dan kau pernah menentang keras ketika kumenuduhmu seperti itu, tapi apa yang kau praktikkan selama ini menjadi alasan kenapa aku pernah mengucapkannya.
Kau terlalu naif. Kau terlalu pasrah. Kau rela menyakiti diri kalau perlu, jika itu bisa membuat orang lain menderakan tawa.
Pemahaman semacam itu terus ada di hati dan jiwamu hingga sekarang, dan entah sampai kapan.
Aku tak punya kuasa untuk mengubahnya. Tak sekalipun ingin mengubahnya.
Ini tentang keyakinan. Keyakinan yang telah mengajarkan, lalu membentukmu hingga menjadi dirimu yang sekarang. Itu membanggakan, kawan.
Senang mengenalmu,
Jumat, 13 Agustus 2010
.:: mbuh.com
hei, ini bukan soal kesalahan pemahaman. hanya saja sering dimunculkan pemutlakan atas itu semua. bahwa 'sesuatu' haruslah menjadi 'sesuatu' itu. dan yang bukan 'sesuatu' mesti berada di wilayah lain di luar 'sesuatu'. mestinya tidak ada kemutlakan di dunia ini. sama sekali tidak ada hal absolut ketika berbicara di ranah manusia dan kemanusiaan. semuanya serba relatif. pun kalau ada yang absolut, tak lain adalah kerelatifan itu sendiri. ya,relativitas yang absolut.
ketika dialektika sudah terperangkap dalam satu 'wilayah', maka yang ada hanyalah kekerdilan yang parah. entah mengapa banyak yang menjaga, membatasi, dan mengekang 'wilayahnya' sendiri. maksud hati ingin menjaga kemurnian, namun ternyata itu hanya akan mengisolasi nurani yang sebenarnya memiliki wilayah yang tak terdefinisi.
pemahaman seperti itu hanya akan memunculkan sikap diam. dan di manapun, diam adalah kesunyian yang bisu. di dalamnya hanya ada kekosongan yang mengendap. kekosongan yang luput dari hingar-bingar ke-kita-an. tapi bukankah, "diam adakah emas?!". --sial! lagi-lagi peribahasa ini dimutlakkan.
Selasa, 08 Juni 2010
:: Ada Apa dengan Miyabi?
Sebuah pertanyaan bias, hingga kemudian mampu menghadirkan ribuan jawaban yang tentu saja tak seragam. Tergantung siapa dan bagaimana memaknainya.
Ada apa dengan miyabi?
Perempuan jepang satu ini sempat menjadi buah bibir di sebagian wilayah negeri. Orang-orang suci sudah terlanjur memberinya cap sebagai penjahat. Karena penjahat, ia layak dihujat. Dan karena penjahat, adalah merupakan sebuah kejahatan jika membiarkannya ikut serta dalam dunia seni-budaya bangsa.
Ada apa dengan miyabi?
Entahlah. Aku belum berwenang untuk menjawabnya. Salah satu penyebabnya adalah aku bukan satu dari sekian orang suci itu.
Ya, Ini dia!
Kesucian.
Bisa jadi kesucian menjadi alasan kenapa wanita cantik yang satu ini haram memasuki negeri.
Hanya saja, jika kesucian menjadi alasan timbulnya hujatan, jika kesucian menjadi titik pangkal munculnya isu ini, maka
pertanyaannya kemudian adalah, kenapa harus miyabi?
Ya, kenapa harus miyabi yang menjadi objek luapan caci-maki?
Sabtu, 08 Mei 2010
:: sekuntum harapan
"every rose has it thorn,"
sebuah lagu dari Poison mengingatkanku pada sebuah topik yg pernah kita perbincangkan. pernah kita perdebatkan. dan hingga detik ini, kita, aku dan kamu, belum juga menyepakati sebuah kesimpulan.
kuyakin kau masih mengingatnya.
ya. harapan.
aku menganalogikan segenggam harapan dengan sekuntum mawar. harapan adalah mawar, lengkap dengan duri yang dimiliki.
ia menawan. ia menggoda. ia memesona. bisa saja kita mencium harumnya. namun jika tak hati-hati, duri tajamnya akan menusuk dan menorehkan luka perih mendalam. hal yang menarik, bukan?
Senin, 26 April 2010
.:: pecundang (?)
kau mulai menabuh genderang perang. kuanggap ini sebuah perhitungan. dan sebagai lelaki, pantang bagiku untuk mundur. karena yang mundur hanyalah pecundang. dan di manapun, pecundang adalah makhluk Tuhan yang paling menyedihkan.
awalnya aku tak seberapa ingin meladeni tantanganmu itu. tak seberapa ingin ada pertempuran. tapi kau yang memulai. dan karena aku --seperti yang pernah kau tuduhkan-- adalah sosok paling antagonis buatmu, maka terpaksa kau kulawan.
tenang saja, aku bukanlah seorang pengecut seperti yang kau sangkakan. aku takkan menyerah. aku takkan lari, bahkan jika harus mati.
sepertinya kau akan kecewa. aku belum ingin mati! pun kalau harus mati, pasti bukan melalui tanganmu itu.
Kamis, 22 April 2010
kepada seorang kawan; plagiarisme yang menyedihkan!
rinduku mengalun pada daun
gemerisik dipetik sang angin
dan hujan mewartakan kegelisahan
lirih desah pada tanah yang basah
___
sajak itu kutulis medio maret 2010. dan apa yang tertuang dalam larat-larat aksara yang merangkainya, anggap saja mewakili perasaanku ketika itu.
namun alangkah kagetnya waktu penggalan sajak, puisi, syair, atau apalah namanya itu, kutemukan lagi dua hari yang lalu. hanya saja kali ini aku merasa berbeda ketika berhadapan dengannya: tulisan itu diakui oleh orang lain! bukan atas namaku, tapi atas nama seorang kawan lama yang telah sekian putaran waktu tak kujumpa.
tentang apa maksud dan alasan dia melakukannya, entahlah! aku tak tahu. aku tak berhak menjawab. dan sama sekali tak ingin menjawab.
mungkin bagi dirinya, itu hanyalah deretan kata yang entah apa juga maknanya. bahkan mungkin sebagian orang tak menganggapnya bermakna.
meski begitu, ia tetaplah anak ruhani yang kulahirkan dari rahim perenungan jiwaku.
aku bukan siapa-siapa yang berhak menuntut. ya, tentu saja tak memiliki hak untuk menuntut. aku tak akan melakukannya. aku hanya ingin memaki. kurasa tak ada yang berkeberatan dengan hal itu.
kepada seorang kawan, jika ingin menunjukkan eksistensi diri, ada cara kain yang lebih elegan!
salam,
* istilah "anak ruhani" kupinjam dari istilah yang pernah digunakan muhidin m. dahlan.
gemerisik dipetik sang angin
dan hujan mewartakan kegelisahan
lirih desah pada tanah yang basah
___
sajak itu kutulis medio maret 2010. dan apa yang tertuang dalam larat-larat aksara yang merangkainya, anggap saja mewakili perasaanku ketika itu.
namun alangkah kagetnya waktu penggalan sajak, puisi, syair, atau apalah namanya itu, kutemukan lagi dua hari yang lalu. hanya saja kali ini aku merasa berbeda ketika berhadapan dengannya: tulisan itu diakui oleh orang lain! bukan atas namaku, tapi atas nama seorang kawan lama yang telah sekian putaran waktu tak kujumpa.
tentang apa maksud dan alasan dia melakukannya, entahlah! aku tak tahu. aku tak berhak menjawab. dan sama sekali tak ingin menjawab.
mungkin bagi dirinya, itu hanyalah deretan kata yang entah apa juga maknanya. bahkan mungkin sebagian orang tak menganggapnya bermakna.
meski begitu, ia tetaplah anak ruhani yang kulahirkan dari rahim perenungan jiwaku.
aku bukan siapa-siapa yang berhak menuntut. ya, tentu saja tak memiliki hak untuk menuntut. aku tak akan melakukannya. aku hanya ingin memaki. kurasa tak ada yang berkeberatan dengan hal itu.
kepada seorang kawan, jika ingin menunjukkan eksistensi diri, ada cara kain yang lebih elegan!
salam,
* istilah "anak ruhani" kupinjam dari istilah yang pernah digunakan muhidin m. dahlan.
Selasa, 20 April 2010
# mau apa coba?!
si***n!
satu kata itu yang ingin kuucapkan. tapi tenanglah. tak perlu marah. bukan aku bermaksud berkata kotor padamu. tak akan kumelakukannya. kuyakin kau tahu hal itu.
pun kalau sekarang sedikit emosional, ini sebatas ekspresi sesaat. aku manusia biasa. sangat biasa. dan karena biasa, aku juga berhak untuk melakukan apa-apa yang dilakukan orang. seperti sekarang ini; aku berhak memaki.
--toh aku juga tak sesarkas dirimu ketika kau dengan terang-terangan menolak kehadiran senja biru itu.
sekali lagi kukatakan, aku tak bemaksud kasar. toh definisi 'kasar' masih bisa diperdebatkan. mungkin menurutmu dan juga sebagian orang, tak selayakunya kuucapkan kata itu. sangat tidak elegan. hei, sebentar, elegan versi siapa?
mungkin kalau saat ini kumengucapkannya, itu karena aku suka. kalau aku sudah suka, mau apa coba?!
Selasa, 23 Maret 2010
.:: mbuh lah,
kuingat nasihat seorang teman dekat. dia berkata, "menulislah! tulis apapun yang sedang kau pikirkan sedang kau rasakan. apapun itu."
pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana jika aku ada pada sebuah kondisi sedang dan tidak ingin merasakan, sedang dan tidak ingin memikirkan apapun? mungkin seperti yang kualami saat ini.
apakah akan kupaksa tangan ini menorehkan larat-larat aksara, sedang hati dan pikiran tak menginginkannnya? jika demikian, apa bedanya diriku dengan mesin pencetak yang tak punya hati dan juga kehendak? entahlah.
mungkin teman baikku itu bisa menjawabnya.
ketika pikiran kosong dan hati mati, apa yang ingin ditorehkan dari keduanya? hanya orang tolol yang bertindak tanpa hati tanpa pikiran.
dan mungkin aku salah satu dari mereka.
tapi paling tidak, aku membuktikan kalau ucapan sahabatku itu benar adanya, buktinya kuhasilkan beberapa kalimat meski pada awalnya aku hanya ingin menghujat semua yang dikatakannya.
Senin, 01 Maret 2010
sahabat,, (?)
kehidupan bukanlah seperti pasar malam, begitu kata Pram. orang-orang datang dan pergi silih berganti. banyak hal yang ditawarkan ketika baru hadir dalam kehidupan, tapi secara tiba-tiba mereka pun menghilang dengan segera. seperti mimpi.
sebagian manusia mengalami kesedihan-cengeng manakala tidak bisa menerima keadaan mesti "dipisahkan" dengan orang yang selama ini begitu dekat. serasa ada sebagian dari jiwa yang terbang. menghilang.
itu merupakan sebuah keniscayaan. dalam kehidupan di dunia ini tak ada yang mengabadi. semuanya serba fana dan serba profan. maka tidak perlu sekali-kali berharap akan adanya kekekalan, termasuk dalam persahabatan. ya, sampai saat ini sahabat sejati menjadi sebentuk konsep abstrak serta menyisakan sepenggal pertanyaan besar yang belum juga terjawab.
mungkin yang perlu dikaji ulang adalah definisi sahabat itu sendiri --yang sampai saat ini belum mendapat hakikat pasti.
boleh jadi tiap kita memiliki orang terdekat. tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah dia benar-benar sahabat? apakah itu juga berlaku dalam setiap sisi kehidupan? dan apakah sahabat sejati, soulmate, atau apapun istilahnya hanya seorang saja?
kesalahan terbesar manusia adalah ketika dari awal memiliki harapan bahwa seorang sahabat akan selamanya menjaga, menemani tiap saat.
hanya orang bodoh yang beranggapan demikian. kenapa? pada kenyataannya tak akan ada seorang pun yang mau melakukan hal itu.
pada dasarnya setiap manusia itu kuat. setiap manusia hebat karena dibekali kemampuan yang luar biasa untuk mengatasi semua problematika hidup. menjalani hidup. menikmati hidup. dan bukan sekedar bertahan hidup.
kehadiran sahabat yang terlalu dekat di satu sisi malah akan melemahkan itu semua. banyak keyakinan yang akhirnya menjadi goyah hanya karena intervensi "sahabat sejati". relasi yang menjamah ruang pribadi ternyata tak mamu menguhkan ke-diri-an. justru sebaliknya, akan membunuh ke-aku-an secara perlahan.
Rabu, 27 Januari 2010
"belum ingin menyapamu"
langit dan bumi. dua entitas yang saling meng-harmoni. dan bahkan mungkin akan saling mengabadi. hubungan antar keduanya terjalin dengan sangat luar biasa. istimewa. nyaris sempurna.
namun semua menjadi hambar belaka manakala salah satu sudah merasa menghamba bagi salah satu yang lain. setelah sekian putaran waktu, bumi mengungkapkan keluh-kesahnya. ia merasa tak lagi dihargai. oleh langit. sahabat yang selama ini setia menemani saat pagi buta maupun ketika senja merangkum setiap detak kehidupan semesta.
selama ini bumi mencurahkan segenap perhatian pada langit. bahkan ketika langit dirundung kesedihan, bumi tak segan menghadiahkan bulan untuk menerangi hati sang langit yang sedang temaram.
bukan hanya itu. bumi pun dengan senang hati menampung segala curahan perasaan langit lewat hujan. baik ketika langit gembira dan menurunkan titik-titik air penghapus dahaga. ketika langit marah dan meluapkannya lewat sayatan kilat dan petir yang menggelegar. maupun ketika langit tersedu hingga meneteskan air mata pilu.
namun langit sama sekali tak peduli pada bumi. saat bumi haus akan air perhatian, langit tak mengacuhkan. saat bumi ingin berbagi perasaan, langit malah asyik bercengkerama dengan bulan dan bintang. dan saat bumi merasa hatinya gersang dan menginginkan hujan, langit berpaling dan tak menghiraukan.
kini bumi terkurung dalam jeruji dunianya sendiri dan sepi. ia ingin memaki, tapi langit tetap tak akan peduli.
bumi pun berujar, "sebaiknya kita akhiri hubungan yang aneh ini. aku belum ingin menyapamu, langitku. mungkin lain kali. atau malah tidak sama sekali."
Jumat, 22 Januari 2010
tidak boleh bersedih?! kau bercanda?
"sudahlah, kau tak perlu menyesali hal ini." katanya sambil mencoba menghiburku malam itu.
sambil tersenyum kecut, aku mengatakan, "kau bercanda?"
ya, aku ingin tertawa saat mendengarnya. ternyata dia tak kenal siapa diriku. bukan diriku sebagai aku, melainkan diriku sebagai seorang anak manusia.
selama ini dia selalu saja memaksaku untuk tersenyum, tertawa, dan tampak bahagia. meski dia sendiri tahu aku sedang tak ingin melakukannya. begitu juga dengan keyakinan, harapan, optimis, dan segala sikap positif sejenis.
"aku ini manusia biasa." sergahku membela diri.
dia menimpali dengan kata-kata yang mungkin sudah kudengar ribuan kali, "aku tahu itu. tapi kita diharuskan untuk selalu menatap hidup dengan penuh semangat dan keyakinan. kita sama sekali tidak boleh bersedih."
"tidak boleh bersedih? kau gila?" ujarku lirih dalam hari.
selain semua hal yang pernah dikhutbahkannya padaku, aku juga berhak untuk sedih, kecewa, putus asa, bahkan menangis. itu semua bagian dari kedirianku.
jelas aku tak dapat melakukan semua yang dia katakan. mungikin hanya dewa yang bisa mencapainya.
dengan nada yang meninggi dia berkata, "kau hanya mencari pembenaran."
tapi bukankan akan indah manakala senang dan sedih, suka dan duka, tangis dan tawa, harapan dan keputusasaan dapat bersanding dengan begitu intim? kita butuh keseimbangan. biar saja mereka datang silih berganti seiring harmoni hidup yang kita jalani.
lalu aku melanjutkan, "kau tahu, aku berani bertaruh, kau pun tak akan mampu. pun kalau benar-benar sanggup, itu karena satu alasan: mungkin kau bukan manusia."
dia terdiam. lalu beranjak pergi meninggalkanku yang memang sedang ingin sendiri. mungkin dia marah. entahlah.
Senin, 18 Januari 2010
begitu juga dirimu
"tomorrow is mystery. yesterday is history. and today is gift'"
hampir tiga puluh menit kita berbincang. dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba kau melontarkan pernyataan itu. sebuah pernyataan yang kuakui sedikit menentramkan.
tapi benarkah?
"mungkin. tergantung manifestasi segala prinsip kebaikan yang telah ada." begitu katamu.
sebenarnya ada apa denganmu? tak biasanya kau berbicara dengan nada serius seperti ini. sok filosofis malah.
oke. aku diam. bukan apa-apa. hanya sedang tak ingin berdebat dengamu saja.
"sadar atau tidak, jutaan ajaran kebaikan hidup telah lama mengendap di otakmu itu. ini bukan tentang ketidaktahuan. kau tahu. aku yakin itu. kau mengerti dan juga memahami."
kau menasihatiku?
hei, sejak kapan kamu berani melakukannya?
kau tahu, aku ingin sesegera mungkin menutup telepon dan mengakhiri pembicaraan kita yang aneh ini. namun tak apa. sekali-kali bolehlah aku mendengar ocehanmu.
lalu kau melanjutkan,
"segala hal yang bernilai kebaikan akan tetap merupakan kebaikan. sekecil apapun nilainya. dan itu menjadi tak berarti manakala hanya sebatas untuk dipahami.
sayangnya, kau terlampau sering menasihatiku. menumpahkan kata-kata yang terkadang tidak aku mengerti apa maksudnya --aku pun tak terlalu yakin kau melakukan apa yang kau katakan. ya, kau terlalu banyak bicara."
begitu juga dirimu, kataku dalam hati.
hampir tiga puluh menit kita berbincang. dan entah apa yang terjadi, tiba-tiba kau melontarkan pernyataan itu. sebuah pernyataan yang kuakui sedikit menentramkan.
tapi benarkah?
"mungkin. tergantung manifestasi segala prinsip kebaikan yang telah ada." begitu katamu.
sebenarnya ada apa denganmu? tak biasanya kau berbicara dengan nada serius seperti ini. sok filosofis malah.
oke. aku diam. bukan apa-apa. hanya sedang tak ingin berdebat dengamu saja.
"sadar atau tidak, jutaan ajaran kebaikan hidup telah lama mengendap di otakmu itu. ini bukan tentang ketidaktahuan. kau tahu. aku yakin itu. kau mengerti dan juga memahami."
kau menasihatiku?
hei, sejak kapan kamu berani melakukannya?
kau tahu, aku ingin sesegera mungkin menutup telepon dan mengakhiri pembicaraan kita yang aneh ini. namun tak apa. sekali-kali bolehlah aku mendengar ocehanmu.
lalu kau melanjutkan,
"segala hal yang bernilai kebaikan akan tetap merupakan kebaikan. sekecil apapun nilainya. dan itu menjadi tak berarti manakala hanya sebatas untuk dipahami.
sayangnya, kau terlampau sering menasihatiku. menumpahkan kata-kata yang terkadang tidak aku mengerti apa maksudnya --aku pun tak terlalu yakin kau melakukan apa yang kau katakan. ya, kau terlalu banyak bicara."
begitu juga dirimu, kataku dalam hati.
Sabtu, 12 Desember 2009
kesuksesan merupakan kegagalan yang tertunda (?)
"sabar! suatu saat kau akan berhasil." nasihat itu sangat akrab di telinga setiap kita.
keberhasilan menjadi suatu orientasi, satu tujuan akhir dalam kehidupan.
ketika sementara orang menganggap bahwa keberhasilan adalah sesuatu yang mesti diperjuangkan mati-matian, saya malah tak sepenuhnya setuju. dalam beberapa hal, kata "keberhasian" mengacu pada ilusi, fatamorgana menyesatkan. betapa tidak. hati dan pikiran dibuai oleh mimpi pada pencapaian satu tujuan. dan ketika yang terjadi justru kegagalan, maka yang muncul kemudian adalah penyesalan.
benar bahwa kegagalan merupakan pelecut semangat. "kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda," begitu sebagian orang mengatakan. lalu bagaimana jika kesuksesan itu tertunda untuk selamanya? inilah pertanyaan yang belum juga terjawab.
anggapan bahwa kegagalan adalah hal yang memalukan, bahkan menjijikkan, perlu mendapat pemahaman ulang.
hidup tidak selalu sempurna. tidak selalu sukses. tidak selalu berhasil. kegagalan adalah bagian dari hidup manusia. itu yang mesti disadari. seperti dua sisi mata uang. baik buruk. itulah kita. itulah manusia. kita memang bukan penjahat, tapi kita juga bukan malaikat.
bisa dibayangkan bagaimana seseorang menjadi sangat tertekan ketika berhadapan dengan kegagalan. padahal gagal dan berhasil, kalah dan menang, merupakan harmonisasi kehidupan yang akan mengabadi. mengutip pendapat seorang teman, "hidup akan membosankan kau urus-lurus saja." ya, akan sangat membosankan manakala hidup selalu diisi dengan keberhasilan atau kegagalan sepenuhnya.
nikmati kegagalan sebagai bagian dari perjalanan hidup, proses hidup. tak ada lagi istilah kegagalan adalah anak tiri yang mesti dimaki. keberhasilan dan kegagalan adalah suatu keniscayaan. keduanya saling berpasangan. saling mengisi. saing melengkapi.
permasalahannya bukanlah terletak pada begaimana menghindari kegagalan dan mencapai keberhasilan. jika demikian, di mana letak ujian keikhlasan? yang lebih penting adalah menerima mereka sebagai saudara kembar yang tak mungkin dipisahkan. jadi kita akan mampu menerima dan memeluk erat keduanya sebagai bagian dari ke-dir-an kita. jadi, mengapa harus ditakuti? kesuksesan sejati justru terletak pada kerelaan menerima keduanya dengan tangan terbuka.
hahaha...
nb: salah satu kegagaan terbesar umat manusia adalah tidak mampu membangun kesamaan persepsi tentang istilah dan definisi. tidak heran manakala banyak hal --yang sebenarnya tidak seberapa penting-- menjadi pertentangan dan mengakibatkan pertikaian yang tak berkesudahan.
keberhasilan menjadi suatu orientasi, satu tujuan akhir dalam kehidupan.
ketika sementara orang menganggap bahwa keberhasilan adalah sesuatu yang mesti diperjuangkan mati-matian, saya malah tak sepenuhnya setuju. dalam beberapa hal, kata "keberhasian" mengacu pada ilusi, fatamorgana menyesatkan. betapa tidak. hati dan pikiran dibuai oleh mimpi pada pencapaian satu tujuan. dan ketika yang terjadi justru kegagalan, maka yang muncul kemudian adalah penyesalan.
benar bahwa kegagalan merupakan pelecut semangat. "kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda," begitu sebagian orang mengatakan. lalu bagaimana jika kesuksesan itu tertunda untuk selamanya? inilah pertanyaan yang belum juga terjawab.
anggapan bahwa kegagalan adalah hal yang memalukan, bahkan menjijikkan, perlu mendapat pemahaman ulang.
hidup tidak selalu sempurna. tidak selalu sukses. tidak selalu berhasil. kegagalan adalah bagian dari hidup manusia. itu yang mesti disadari. seperti dua sisi mata uang. baik buruk. itulah kita. itulah manusia. kita memang bukan penjahat, tapi kita juga bukan malaikat.
bisa dibayangkan bagaimana seseorang menjadi sangat tertekan ketika berhadapan dengan kegagalan. padahal gagal dan berhasil, kalah dan menang, merupakan harmonisasi kehidupan yang akan mengabadi. mengutip pendapat seorang teman, "hidup akan membosankan kau urus-lurus saja." ya, akan sangat membosankan manakala hidup selalu diisi dengan keberhasilan atau kegagalan sepenuhnya.
nikmati kegagalan sebagai bagian dari perjalanan hidup, proses hidup. tak ada lagi istilah kegagalan adalah anak tiri yang mesti dimaki. keberhasilan dan kegagalan adalah suatu keniscayaan. keduanya saling berpasangan. saling mengisi. saing melengkapi.
permasalahannya bukanlah terletak pada begaimana menghindari kegagalan dan mencapai keberhasilan. jika demikian, di mana letak ujian keikhlasan? yang lebih penting adalah menerima mereka sebagai saudara kembar yang tak mungkin dipisahkan. jadi kita akan mampu menerima dan memeluk erat keduanya sebagai bagian dari ke-dir-an kita. jadi, mengapa harus ditakuti? kesuksesan sejati justru terletak pada kerelaan menerima keduanya dengan tangan terbuka.
hahaha...
nb: salah satu kegagaan terbesar umat manusia adalah tidak mampu membangun kesamaan persepsi tentang istilah dan definisi. tidak heran manakala banyak hal --yang sebenarnya tidak seberapa penting-- menjadi pertentangan dan mengakibatkan pertikaian yang tak berkesudahan.
Sabtu, 28 November 2009
salahkah air mata?
tangis. entah kenapa kata yang satu ini menjadi eksistensi yang seringkali tak dihargai. bahkan sebagian orang malah mengharamjahanamkannya.
"sudahlah, tidak perlu menangis! jadi orang kok cengeng." kata-kata itu begitu akrab di telinga. menangis dianggap sebagai perilaku kekanak-kanakan. orang yang mengeluarkan air mata dinilai sebagai orang yang tak berdaya dan hanya bisa melampiaskan emosinya dengan tangis, dan bukan yang lain. kata "tangis" juga sering diidentikkan dengan kata cengeng. bahkan sempat merembet ke isu gender karena ada anggapan hanya wanita yang berhak menangis. seorang laki-laki pantang melakukan hal itu.
semua pemikiran tersebut di atas sepertinya layak untuk dikaji ulang.
tangis adalah ekspresi manusia, sama dengan ekspresi yang lain. tangis sama dengan senyum. tangis sama dengan tawa. tangis sama dengan luapan emosi lainnya. oleh karena itu tidak ada satupun orang di dunia ini yang berhak melarang seseorang untuk menangis dan mengeluarkan air matanya. ya, menangis merupakan hak manusia yang paling asasi. maka jika ada yang berani melarang seseorang menangis, berarti telah melanggar hak orang lain sebagai manusia merdeka.
persoalan berikutnya adalah tangis seringkali diidentikkan dengan wanita. ini merupakan sebuah diskriminasi yang nyata. seorang laki-laki dilarang menangis? ah, tak ada dasar yang kuat untuk hal ini. sebagai seorang manusia, laki-laki sama dengan wanita, berhak untuk menumpahkan emosinya dalam bentuk apapun ketika melewati moment-moment yang memang emosional.
apakah tangis sama dengan cengeng? seperti yang dikemukan di awal tadi, tangis adalah ekspresi. air mata adalah ekspresi yang keluar dari perasaan paling dalam. itu kenapa ketika tangis mereda, yang hadir kemudian adalah kelegaan dan ketenangan yang luar biasa. sedangkan orang yang cengeng lebih banyak menunjukkan kelamahan. cengeng adalah lari dari masaah. cengeng adalah tak berdaya. dan cengeng adalah meluapkan segala kepenatan dengan melakukan hal-hal yang negatif serta destriktif. orang cengeng belum tentu menumpahkan emosinya dengan menangis. tapi justru ia mempertontonkan ketidaktegaran yang sebenarnya.
dan yang terakhir, apa tujuan Tuhan menciptakan air mata kalau tidak untuk ditumpahkan?
Senin, 23 November 2009
relativitas yang absolut
tak ada kemutlakan dalam hal duniawi. tak ada satu hal pun yang absolut. sesuatu tidak dapat dikatakan sepenuhnya benar atau sebaliknya, sepenuhnya salah. semua serba relatif. pun kalau ada yang absolut, tak lain adalah relativitas itu sendiri.
semua hal tentang manusia dan kemanusiaan selayaknya dipandang dari sudut pandang tersebut di atas. Tuhan menciptakan dua hal yang saling berpasangan. masing-masing tidak dapat ditempatkan pada dua titik ekstrim. keduanya dapat saling bergerak, bahkan saling bertukar. sama sekali bukan seperti setan dan malaikat. pada titik inilah istilah "sangat" dan "paling" mesti mendapat pengertian ulang.
sekilas, hukum tersebut seakan-akan mengandung bias. tidak ada ketetapan. tidak ada kepastian. bahkan terkesan liar. namun, meminjam istilah seorang teman, itulah 'irama kehidupan'. ya, kehidupan akan terus berubah dan berkembang, bukan?
salam sahabat
sahabat. sulit menemukan definisi kata yang satu ini. bahkan mungkin tak terdefinisikan. kenapa? definisi seringkali memberikan sebuah batasan. definisi mengharamkan hadirnya segala kemungkinan yang tak pasti. padahal, kedalaman relasi persahabatan terlalu dalam untuk dibatasi. persahabatan membuka ruang seluas-luasnya bagi berkembangnya beragam kemungkinan.
salah satu masalah yang diciptkan manusia adalah terlampau mendewakan sebuah definisi. benar bahwa deinisi meminimalkn munculnya bias yang tak jelas. namun bersamaan dengan hal itu akan memicu muncunyal individualitas sebuah konsep.
hal tersebut juga berlaku untuk persahabatan.
banyak yang mencoba mendefinisikannya. sebagian berpikir keras untuk merumuskani definisi yang tepat. masing-masing mengklam sebagai yang paling benar, paling mengerti, hingga merasa paling berhak untuk memaknai. kenyataan menunjukkan tak ada satu pun definisi yang sama. semua berbeda. bahkan tak jarang saling bertentangan. hal itu merupakan bukti bahwa tak ada seorang pun yang berhak untuk menguasai wilayah itu.
seperti yang dikemukkan di awal tadi, sahabat tak terdefinisi. dan memang tak perlu untuk didefinifikan. biarlah ia berhembus lepas, menghangatkan jiwa-jiwa manusia yang selama ini beku dalam dinginnya kesendirian. biarlah ia bebas mengepakkan sayap, lalu hinggap di hati setiap anak manusia yang memperkenalkan dirinya sebagai sahabat sejati.
salam persahabatan!
Sabtu, 21 November 2009
catatan orang sakit jiwa*
entah kenapa, akhir-akhir ini kau begitu menyebakan!
dulu kau berujar bahwa jalinan kita akan abadi selamanya. omong dengan itu semua. buktinya sekarang kau "pergi" entah ke mana. kau meninggalkanku begitu saja justru ketika aku sedang sakit jiwa.
kita masih bersua, tapi tak lagi saling sapa.
bahkan di titik ini pun aku masih saja percaya padamu.
ada dua kemungkinan. aku terlampau baik. atau aku terlalu tolol. aku lebih suka jika alasannya adalah yang kedua.
tidak sekali ini saja.
kau bilang mengharapkan perhatian. aku perhatikan, kau tidak jarang tiba-tiba menghilang.
beberapa waktu lalu, aku berusaha menyapa, tapi ternyata kau tak hirau dan berlalu begitu saja. sial! apa yang terjadi denganmu sebenarnya
dan bodohnya aku, ketika kau datang, betapa hangat aku menyambutmu. kebencian serta kemarahan kemarin hilang begitu saja. dan relasi kita berdua kembali seperti biasa. apa adaanya.
tapi untuk kali ini, sepertinya tidak. hubungan kita begitu aneh. begitu dingin. lebih baik kita akhiri saja. toh tak ada gunanya melanjutkannya.
kau begitu menyedihkan, sayang.
aku tak bisa membayangkan bagaimana jika kau kehilangan teman sebaik diriku ini. kau pasti sedih. aku yakin itu. coba kamu pikirkan, selama kamu hidup di dunia ini, mana ada orang yang berkali-kali memaafkanmu untuk kesalahan yang sama. kalaupun ada, seperti yang aku kemukakan sebelumnya, ada dua kemungkinan. mungkin saja orang itu memang baik. tapi bisa jadi dia adalah setolol-tololnya manusia. meski aku memang tolol, tapi aku tidaklah sebodoh yang kamu bayangkan.
maaf telah membuatmu kecewa. aku yakin kau berpikir akan aku maafkan begitu saja. ah, aku terlalu baik untuk melakukan itu. aku terlalu baik untukmu.
lihat saja nanti. kau pasti akan sanagt membutuhkanku. kau akan sangat kehilangan diriku.
tapi, tidak sebesar seperti aku kehilangan dirimu...
*) catatan ini permintaan seorang teman, dan bertolak dari apa yang dia kisahkan beberapa hari terakhir. judul tersebut merupakan permintaan yang bersangkutan. meski dia sedang "sakit jiwa", tapi tak kehilangan kepercayaan diri yang luar biasa, atau saya lebih suka menyebutnya dengan istilah 'sindrom narsisme yang akut'. haha..
Minggu, 15 November 2009
puLau menyawakan_151109
setelah pulau kecil dan pulau tengah, target kunjungan berikutnya adalah pulau menyawakan. "target kunjungan"? ah, sepertinya kurang tepat jika kedua kata itu digunakan. belum ada perencanaan sebelumnya, oleh karenanya tidak ada "target". lalu "kunjungan". apalagi kata yang satu ini. pemakaian kedua kata tersebut hanya karena penulis belum menemukan kosa kata yang tepat untuk mengungakapkan ide. tapi, sudahlah.
matahari sudah meninggi. meski formasi tidak lengkap, semangat berpetualang sama sekali tidak menghilang. toh kami ditemani si kembar salim dan salam. dua bersaudara yang selama ini cukup setia.
perjalanan diperkirakan dapat ditempuh dalam waktu 45 menit. syukurah, suasana laut begitu teduh --tidak seperti ekspedisi pulau tengah dan pulau kecil dengan ombak mencapai 2 meter. akan tetapi laut yang tenang juga membuat perjalan jadi cukup membosankan.
setelah sekitar satu jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. pulau menyawakan. pulau yang tidak begitu luas, namun memiliki daya tarik tersendiri. tentu saja. jika tidak, untuk apa bersusah payah mencapainya dengan meninggalkan tugas dan kegiatan yang paling mendamaikan di hari minggu: tidur. haha.
sepertinya tempat ini akan menyenangkan. banyak yang bisa dilihat. satu lagi dan ini haram jika dilupakan, ada media untuk mengekspresikan diri. apalagi kalau bukan foto-foto: ekspresi narsis yang paling manusiawi di abad ini.
namun, ada sedikit masalah ketika kami akan menjejakkan kaki di menyawakan. pengelola hampir saja tidak menijinkan karena ada kegiatan penting di tempat tersebut. sempat terlintas pikiran untuk melanjutkan perjalan ke pulau parang. tapi untunglah, akhirnya lolos juga (apresiasi kami tujukan buat mas ghofur dan pak lurah!).
pemandangan cukup menarik, meski sebenrnya tak seindah yang dibayangkan sebelumnya. mungkin ini juga karena adanya kejadian di awal tadi. tak apalah. tetap mencoba untuk menikmati.
pukul 16.30 selesai sudah perjalanan menjelajahi salah satu tempat di gugusan kepulauan karimunjawa ini. lelah? mungkin. senang? bisa jadi. narsis? tentu saja. itu pasti!
menjelang petang, kami pun beranjak pulang. sekali lagi, tak ada ombak yang berarti. justru kami disuguhi pemandangan senja yag luar biasa --meski akhirnya tidak bisa menyaksikan matahari terbenam karena terhalang awan mendung.
antara langit dan laut. ya, kami diapit keduanya. dua makhluk tuhan yang begitu luas dan terihat sangat kekar hingga mampu melumatkan apa saja, tidak terkecuali kami semua. Tuhan menciptakan dua hal berpasangan yang kontradiktif namun memilki rangkaian harmoni. cantik dan indah sekaligus kejam dan mengerikan. setelah serangkain narsisme yang kami tunjukkan, kami merasa bukan siapa-siapa, bahkan bukan apa-apa di hadapan kekuasaan Sang Pencipta. mungkin itulah pelajaran paling berharga yang penulis dapatkan dalam perjalanan kali ini.
di sini penulis tidak menggambarkan keindahan pulau menyawakan yang baru saja dikunjungi. ada tiga alasan. pertama, penulis tidak biasa menderskripsikan sebuah lokasi. tidak terlampau mahir mengungkapkan kembali sebuah pengalaman nyata yang mestinya objektif. alasan kedua, ingin membuat penasaran bagi yang belum menyaksikan. sedangkan yang ketiga adalah karena tidak ingin. ya, sama sekali tidak. itu saja.
karimunjawa, november 2009
foto by hery br
15 November 2009
Jumat, 06 November 2009
sudahkah? ah, sepertinya belum..
manusia adalah bagian dari makrokosmos. hal tersebut perlu disadari mengingat egositas masih sering dipertontonkan. dengan dalih khalifah dan mendapatkan kepercayaan dari Sang Pencipta, manusia merasa sebagai makhluk paling unggul di alam raya. impak dari itu semua adalah munculnya hasrat untuk mengolah dan menguasai alam ini sekehendak hati --atau lebih tepatnya, nafsu. tumbuhan, hewan, laut, gunung, bukit dianggap sebagai benda an sich yang mesti tunduk di bawah kaum yang juga mengklaim dikaruniai hati nurani ini.
di dunia manusia, berlaku doktrin bahwa mereka memiliki cipta, rasa, dan karsa yang tidak dipunyai makhluk lain. oleh karena itulah peradaban manusia mengalami progress yang luar biasa. teknologi dan industri pun melaju tak terkendali.
namun, disadari atau tidak, tanpa ada pengendalian yang seimbang, hal tersebut sering kali menimbulkan hegemoni komunal. manusia merasa sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki hak untuk mengendalikan arus sejarah. tak terhitung kerusakan yang sering ditimbulkan oleh makhluk yang satu ini. bukan hanya sebagai kaum, tetapi juga sebagai individu, sebagai personal. bukan hanya sebagai manusia, tapi juga sebagai orang yang berpribadi.
setiap orang memang memiliki hak yang tidak dapat diganggu gugat. di satu sisi, hak asasi mengatur relasi yang selaras antarindividu. seseorang boleh mengambil haknya, asalkan tidak melanggar hak orang lain. tujuannya jelas, rasa keadilan.
di sisi lain, hak dianggap sebagai kewenangan. kewenangan yang kerap melahirkan pertikaian antarindividu karena sama-sama merasa memiliki hak atas sesuatu. dan karena sesuatu itu merupakan hak, maka hak itu harus diambil, bagaimanapun caranya. tidak mengherankan jika kemudian muncul vandalisme yang dipaksakan. saling injak. saling tikam. saling menguasai. saling menyakiti. sungguh mengerikan jika peradaban di bumi ini dibangun oleh hal-hal demikian.
mungkin hal tersebut dapat diminimalisasi jika tiap manusia selalu berusaha untuk selesai dengan dirinya terlebih dahulu.
selesai dengan diri sendiri. kalimat sederhanya yang ternyata aplikasinya dalam keseharian tidaklah sederhana.
bagimana memaknai selesai dengan diri tersebut? ternyata juga tidak mudah.
manusia yang telah selesai dengan dirinya tidak melulu akan menuntut haknya sebelum dia mampu memenuhi hak orang lain. mereka memilki pola pikir bahwa hak bukanlah kewenangan untuk menuntut, melainkan kewajiban untuk memberi dan memenuhi.
manusia yang selesai dengan dirinya sendiri akan lebih sering bersikap diam, berkontemlasi dan menasihati diri sendiri, bukannya berkoar-koar ceramah dan menasiahati orang lain. ya, kebiasaan berpendapat tidak pada porsinya tanpa disadari merupakan permasalah tersendiri.
dan permasalahannya sekarang adalah, bukankan saya juga terlalu banyak berpendapat dan malah menasihati Anda? sungguh tindakan yang lancang! haha...
di dunia manusia, berlaku doktrin bahwa mereka memiliki cipta, rasa, dan karsa yang tidak dipunyai makhluk lain. oleh karena itulah peradaban manusia mengalami progress yang luar biasa. teknologi dan industri pun melaju tak terkendali.
namun, disadari atau tidak, tanpa ada pengendalian yang seimbang, hal tersebut sering kali menimbulkan hegemoni komunal. manusia merasa sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki hak untuk mengendalikan arus sejarah. tak terhitung kerusakan yang sering ditimbulkan oleh makhluk yang satu ini. bukan hanya sebagai kaum, tetapi juga sebagai individu, sebagai personal. bukan hanya sebagai manusia, tapi juga sebagai orang yang berpribadi.
setiap orang memang memiliki hak yang tidak dapat diganggu gugat. di satu sisi, hak asasi mengatur relasi yang selaras antarindividu. seseorang boleh mengambil haknya, asalkan tidak melanggar hak orang lain. tujuannya jelas, rasa keadilan.
di sisi lain, hak dianggap sebagai kewenangan. kewenangan yang kerap melahirkan pertikaian antarindividu karena sama-sama merasa memiliki hak atas sesuatu. dan karena sesuatu itu merupakan hak, maka hak itu harus diambil, bagaimanapun caranya. tidak mengherankan jika kemudian muncul vandalisme yang dipaksakan. saling injak. saling tikam. saling menguasai. saling menyakiti. sungguh mengerikan jika peradaban di bumi ini dibangun oleh hal-hal demikian.
mungkin hal tersebut dapat diminimalisasi jika tiap manusia selalu berusaha untuk selesai dengan dirinya terlebih dahulu.
selesai dengan diri sendiri. kalimat sederhanya yang ternyata aplikasinya dalam keseharian tidaklah sederhana.
bagimana memaknai selesai dengan diri tersebut? ternyata juga tidak mudah.
manusia yang telah selesai dengan dirinya tidak melulu akan menuntut haknya sebelum dia mampu memenuhi hak orang lain. mereka memilki pola pikir bahwa hak bukanlah kewenangan untuk menuntut, melainkan kewajiban untuk memberi dan memenuhi.
manusia yang selesai dengan dirinya sendiri akan lebih sering bersikap diam, berkontemlasi dan menasihati diri sendiri, bukannya berkoar-koar ceramah dan menasiahati orang lain. ya, kebiasaan berpendapat tidak pada porsinya tanpa disadari merupakan permasalah tersendiri.
dan permasalahannya sekarang adalah, bukankan saya juga terlalu banyak berpendapat dan malah menasihati Anda? sungguh tindakan yang lancang! haha...
Langganan:
Postingan (Atom)










