"Apakah akan kupaksa tangan ini menorehkan larat-larat aksara,
sedang hati dan pikiran tak menginginkannnya?

Jika demikian, apa bedanya diriku dengan mesin pencetak yang tak punya hati tak punya kehendak?"

Tampilkan postingan dengan label terima kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terima kasih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Desember 2009

terima kasihku padamu (3)






kata sederhana itu aku ucapkan atas semua kebaikan yang tentu saja tak sederhana.

hingga detik ini kau masih mau menemaniku. bukankah itu luar biasa? ya, tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu semua.

benar bahwa tak setiap detik kita saling bertegur sapa. namun itu tak membuat kita memalingkan muka. apalagi menjadikan kita saling lupa. toh setiap kali bencengkrama, kau senantiasa menyambutku dengan senyum hangat yang memesona.

aku tak berani berharap relasi kita akan mengabadi karena keabadian hanya milik Tuhan. hanya saja aku tak ingin melepas genggaman tanganmu begitu saja. kisah yang kita jalani tidak akan berhenti sampai di sini. aku yakin sampai esok, lusa, dan hari nanti...

salam sayangku padamu!


Rabu, 18 November 2009

Terima Kasihku Padamu (2)

 -- buat peri kecilku





untuk kesekian kali, kata maaf itu mengalir dari hatimu. terkejutkah aku? mungkin tidak. aku tahu kau pasti akan melakukannya, seperti yang sudah-sudah.

aku terlalu bebal hingga tak sepenuhnya mampu menyadari kepedulian yang kau tunjukkan. selama ini aku masih saja berpikir bahwa sesuatu yang bernama ketulusan adalah nonsens belaka. sama sekali tak ada. kalaupun tampak demikian, itu sekedar untuk menjaga perasaan persahabatan. tak lebih. dan hal itu tidaklah kekal. suatu saat pasti akan menguap ke langit entah.

namun, kenyataan sama sekali berbeda dengan apa yang aku pikirkan.
kau tulus. begitu tulus. bahkan terlalu tulus untukku.
kau mengajariku bagaimana membangun hubungan dengan mengabaikan pertanyan, "untuk apa?" dan "apa gunanya?".
kau mengajariku bagaimana relasi ke-kita-an kita yang benar-benar dibangun dari hati yang terdalam. saling menjaga. saling menumbuhkan empati. begitu hangatnya.

peri kecilku yang baik hati,
aku tidak berani menjanjikan apapun padamu saat ini. karena janji hanya akan tinggal janji kalau tidak dituntaskan. aku hanya bisa mengatakan, terima kasih. waktu akan membuktikan bahwa apa yang telah kau tunjukkan padaku telah benar-benar mengubah hidupku.

salam hormat dengamu!

Jumat, 13 November 2009

mau krupuk?

“mau krupuk? aku habis goreng satu toples besar. siapa tahu bisa ngilangin rasa hati yang nggak enak..”

meski tidak sama persis, tapi kira-kira begitulah katamu waktu itu.

ah, kau ada-ada saja.. ^_^

tapi aku suka..

mungkin kau memang sengaja mengucapkannya dan bermaksud untuk sejenak mengalihkan pembicaraan. ya... sedikir mencairkan suasana.
hey, bisa-bisanya kau memikirkan hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benakku. haha..
pertanyaan yang muncul kemudian adalah apa hubungan antara krupuk dengan topik yang kita perbincangkan ketika itu?
aku kira tidak ada. dan justru karena ketiadaan relasi itulah, kau berhasil membuatku tersenyum, dalam arti yang sebenarnya.

tapi bisa jadi “krupuk” itu hadir dari spontanitas tanpa perencanaan.
kau tahu, justru aku lebih suka jika ternyata alasan kedua inilah yang mendasari hadirnya kata-katamu itu.
dan itulah dirimu. seringkali muncul dengan kejutan-kejutan yang menyenangkan.
bahwa kau tidak tahu benar apa yang aku alami saat itu, sama sekali bukan masalah. yang lebih penting adalah, kata-kata itu mengalir dari kedalaman hatimu.

salam hormat denganmu,,


Kamis, 22 Oktober 2009

Terima Kasihku Padamu (1)

Tulisan ini kumulai dari sepenggal tulisan Dian Ritter, "Kesombongan adalah 'aku' yang membumbung terlalu tinggi."
Ketika membaca kalimat itu, aku teringat kepada seseorang yang teramat mengagungkan ke-aku-annya. Seseorang yang telah dengan sengaja menciptakan sekat antara "aku" dan "kalian yang bukan aku".

Individualis ataukah terkesan terlampau narsis?
Entahlah! Yang pasti, di saat sementara orang mengaharam-jahanamkan keduanya, ia malah meng-ada-kan, menghadirkannya untuk mempertahankan diri dari "yang bukan aku".
Menurutku dia sedang mengidap apa yang pernah dikemukkan Fromm sebagai self-centeredness syndrom yang akut.

Aku kira kamu tahu siapa orang yang aku maksud. Ya, itu aku.

Aku sering menyimpulkan bahwa aku adalah orang yang sangat individualis. Bukan berarti tak mengacuhkan orang lain. Apalagi anti-social. Sama sekali tidak. Individualis yang aku maksud lebih kepada sikap introvert yang parah: tidak mengijinkan seorang pun menjamah ruang pribadiku.

Tapi, selalu saja ada cela dalam diri setiap insan. Dan ketika cela itu tak dapat dikelola, ia akan semakin menjadi.

Ada kalanya aku kalah. Kapan? Ketika aku tak lagi mampu menghadapi ganasnya terjangan gelombang kehidupan yang kadang mengombang-ambingkanku seorang diri. Saat itulah aku sadar bahwa ke-aku-anku yang membumbung tinggi itu ternyata menyimpan kerapuhan.

Tapi, entah kenapa aku terlalu sombong untuk mengakui kekalahan itu. Kesombongan yang makin memperkokoh tembok pertahanan diriku: kesombongan itu sendiri. Dan dengan dalih kepercayaan diri, berkali-kali aku membunuh keinginan untuk menjalin relasi peribadi yang terbuka dengan orang lain.
Namun, bukan berarti serta merta aku dapat membebaskan diri dari belenggu itu. Membunuhnya. Menguburnya. Tidak! Dia tidak hilang begitu saja. Dia --meminjam istilah seorang teman-- hanya luntur, pudar, terkikis, tapi tak habis. Dan sewaktu-waktu dia akan kembali menyeruak, bahkan dengan determinasi yang makin tak terkendali.

Sampai suatu saat kamu berhasil ”memaksaku” untuk meninjau ulang semua yang kupahami. Tentang ke-aku-an, ke-diri-an, dan kebersamaan.

Kau telah berhasil menggiringku pada suatu titik dimana aku mulai menyadari betapa angkuhnya egoisme yang berlebihan.
Dan kini aku mulai percaya pada apa yang pernah dikatakan Ernest Cassirer dan Kiekergaard, "Manusia menghayati dirinya yang uniqum bukanlah dengan jalan menghindari kebersamaan, melainkan justru bersama dengan yang lain-lain."

Terima kasih kuucapkan padamu. Kini aku mulai mendekonstruksi semua pemikiran dan keyakinan yang kuanut sebelumnya. Aku mulai setuju dengan pendapatmu bahwa manusia mesti menjalin relasi yang hangat dengan yang lain kalau tidak ingin mati dalam dingin, dalam kesendirian yang beku.

Salam hormat denganmu!