"Apakah akan kupaksa tangan ini menorehkan larat-larat aksara,
sedang hati dan pikiran tak menginginkannnya?

Jika demikian, apa bedanya diriku dengan mesin pencetak yang tak punya hati tak punya kehendak?"

Minggu, 18 April 2010

malam datang terlalu dini _

"malam datang terlalu dini,"

sepenggal kalimat itu pernah kuucap beberapa waktu lalu. tak ada makna luar biasa. itu sekedar ekspresi betapa 'waktu' merupakan sebuah ancaman serius akan eksistensi di muka bumi ini.

betapa tidak?!
ia datang, melaju dengan begitu cepatnya. berhenti? sama sekali tidak. padahal kita membutuhkan jeda dalam rancang konstruktif ke-diri-an kita. kita memerlukan beberapa detik waktu anta untuk merenung untuk berpikir untuk merancang strategi meniti jalan kehidupan yang mungkin akan sangat terjal.

ia dengan sangat sadis menggilas apa saja yang tak berjalan seiring dengannya.

ia menggerus setiap renik masa lalu. menjadikannya sebatas memori. hanya itu.

sampai transkripsi ini kutulis, waktu menjadi semacam fobia yang terus menghantui setiap detik dan detak jantungku, dan mungkin juga sebagian kita.

Jumat, 02 April 2010

tak ada yang percaya pada senja biruku,,



sampai dengan detik ini, hanya dirimu yang percaya kalau senja berwarna biru itu memang ada.

kau tahu, berulang kali kuyakinkan mereka semua. tapi percuma. tak ada yang percaya. tak satupun. beberapa di antaranya malah sempat menuduhku sebagai orang gila. "jelas-jelas senja berwarna kemerahan," begitu katanya.

mereka berusaha keras menyadarkan, meyakinkan, bahkah memaksaku untuk mengatakan tak ada senja biru itu.

terang saja aku tak bersedia melakukannya. aku yakin. sangat yakin kalau senja biru itu benar adanya. bukankah itu juga yang kau rasakan? mereka tak akan mampu memaksaku. dan akhirnya aku juga tak ingin memaksa mereka agar percaya pada apa yang kulihat, kualami, dan yang kupercaya.

cukuplah aku dan dirimu. terima kasih. salam hormatku padamu,,

Kamis, 01 April 2010

gelisah hujan

rinduku mengalun pada daun
gemerisik dipetik sang angin

dan hujan mewartakan kegelisahan
lirih desah pada tanah yang basah

Rabu, 31 Maret 2010

setan kecil...

sudah beranjak pagi. dan kau belum juga mau menyapaku sampai dengan hari ini. sial! apa yang ada di otakmu sekarang?!







kau tahu, awalnya aku tak terlalu ingin mengingatmu. namun kupikir, tak ada salahnya kalau berusaha membuat relasi kita jadi lebih cair. karena itulah, aku membuang jauh kesombongan yang selama ini kubanggakan.

tapi..
ah, entahlah!

mungkin kau terlalu sibuk dengan semua urusanmu. terbuai atau malah trance dalam hingar-bingar dunia yang telah membuat dirimu menjadi begitu berbeda. atau mungkin juga kau sedang menikmati kesendirian, dan tersenyum puas melihatku yang seperti orang bodoh mengumpulkan puing-puing ke-diri-an.

sudahlah,,

Selasa, 23 Maret 2010

.:: mbuh lah,




kuingat nasihat seorang teman dekat. dia berkata, "menulislah! tulis apapun yang sedang kau pikirkan sedang kau rasakan. apapun itu."

pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana jika aku ada pada sebuah kondisi sedang dan tidak ingin merasakan, sedang dan tidak ingin memikirkan apapun? mungkin seperti yang kualami saat ini.

apakah akan kupaksa tangan ini menorehkan larat-larat aksara, sedang hati dan pikiran tak menginginkannnya? jika demikian, apa bedanya diriku dengan mesin pencetak yang tak punya hati dan juga kehendak? entahlah.
mungkin teman baikku itu bisa menjawabnya.

ketika pikiran kosong dan hati mati, apa yang ingin ditorehkan dari keduanya? hanya orang tolol yang bertindak tanpa hati tanpa pikiran.

dan mungkin aku salah satu dari mereka.
tapi paling tidak, aku membuktikan kalau ucapan sahabatku itu benar adanya, buktinya kuhasilkan beberapa kalimat meski pada awalnya aku hanya ingin menghujat semua yang dikatakannya.

.:: imaji hujan







kehadiranmu bersamaan dengan datangnya hujan masih menyisakan sepenggal pertanyaan.

apakah kau yang mengirim hujan itu padaku?
meski itu yang kau katakan, aku ragu --dan bahkan saat ini mulai tak memedulikan hal itu.





&^$^$#&^)(*&@

hujan yang kau kirimkan ternyata tak seperti yang kuinginkan. benar bahwa kau ingin menurunkan rintik air itu untuk menyejukkanku.
namun kenyataannya tak demikian. hujan itu menyapaku dengan tak ramah. titik-titik air yang jatuh ternyata tak membentuk harmonisasi seperti yang kau janjikan. belum lagi kilatan petir yang menyayat langit serta dentumannya yang menggegar. sungguh memekakkan telinga siapa saja yang ada di sekelilingnya. alih-alih tergugah menikmatinya, aku malah makin meringkuk dalam dingin dan ketakutan hujan yang kau sampaikan.

untunglah, hujanmu reda segera.

bukan! bukan reda. namun menghilang entah ke mana. tak ada satupun jejak yang menandakan hujan.

peristiwa itu membuatku ragu dan mempertanyakan apakah hujan yang kau sampaikan itu ada. seperti halnya aku meragukan relasi kita yang mungkin memang tak nyata.

entahlah!

Minggu, 21 Maret 2010

.:: malaikat kecil(ku) ??



kau pernah tidak setuju ketika kali pertama kusapa dirimu dengan nama itu.
ada dua alasan yang kau kemukakan.

tentang malaikat. menurutmu sebutan malaikat belum pantas melekat pada dirimu. "terlalu bagus," katamu waktu itu.
kemudian kau mempersoalkan istilah "kecil" yang kugunakan. Kata kecil seakan-akan mengidentikkan dirimu dengan sifat manja dan kekanak-kanakan. selain itu, mungkin kau juga tidak menyukainya karena ada orang lain yang juga pernah kupanggil dengan nama "kecil" di belakangnya. entahlah..

aku memanggilmu dengan nama "malaikat kecil" bukan tanpa alasan. tentu alasan yang kumiliki sama sekali tidak seperti yang kau sangkakan.

dan alasan paling kuat yang dapat kukatakan padamu adalah, karena aku suka. ya, aku suka menyapamu dengan nama itu. kalau aku sudah suka, mau apa coba? hehe