"Apakah akan kupaksa tangan ini menorehkan larat-larat aksara,
sedang hati dan pikiran tak menginginkannnya?
Jika demikian, apa bedanya diriku dengan mesin pencetak yang tak punya hati tak punya kehendak?"
Jumat, 13 Agustus 2010
.:: mbuh.com
hei, ini bukan soal kesalahan pemahaman. hanya saja sering dimunculkan pemutlakan atas itu semua. bahwa 'sesuatu' haruslah menjadi 'sesuatu' itu. dan yang bukan 'sesuatu' mesti berada di wilayah lain di luar 'sesuatu'. mestinya tidak ada kemutlakan di dunia ini. sama sekali tidak ada hal absolut ketika berbicara di ranah manusia dan kemanusiaan. semuanya serba relatif. pun kalau ada yang absolut, tak lain adalah kerelatifan itu sendiri. ya,relativitas yang absolut.
ketika dialektika sudah terperangkap dalam satu 'wilayah', maka yang ada hanyalah kekerdilan yang parah. entah mengapa banyak yang menjaga, membatasi, dan mengekang 'wilayahnya' sendiri. maksud hati ingin menjaga kemurnian, namun ternyata itu hanya akan mengisolasi nurani yang sebenarnya memiliki wilayah yang tak terdefinisi.
pemahaman seperti itu hanya akan memunculkan sikap diam. dan di manapun, diam adalah kesunyian yang bisu. di dalamnya hanya ada kekosongan yang mengendap. kekosongan yang luput dari hingar-bingar ke-kita-an. tapi bukankah, "diam adakah emas?!". --sial! lagi-lagi peribahasa ini dimutlakkan.
Selasa, 03 Agustus 2010
.:: cinta yang memerdekakan
"memilih hidup dalam cinta adalah sebuah pilihan untuk masuk dalam ring pertaruhan karena hidup menuntut pertaruhan. pertaruhan dengan apa? pertaruhan mengukuhkan imajinasi: apakah imajiansi itu mengayakan ruhani atau mengenyahkan ruhani."
-- muhidin m. dahlan
kamu pernah menanyakan arti cinta. sebuah tema purba yang masih saja sering diperbincangkan, bahkan diperdebatkan. dan sepertinya dialektika itu akan selamanya mengabadi.
aku tidak tahu persis apa itu cinta.
pun kalau aku tahu, cinta yang aku pahami bisa saja berbeda dengan cinta yang kamu maksud. ya, ada beragam jenis cinta. beragam pula definisinya. tergantung dari sudut mana individu memandang, lalu memaknainya.
erich fromm pernah mengemukakan ada dua modus yang berhubungan dengan eksisitensi manusia dalam menjalani hidupnya. pertama, modus "memiliki" (to have). seseorang dengan pola hidup "to have" merasa bahagia, atau lebih tepatnya, senang -- sebab bahagia dan senang hakikatnya berbeda-- manakala memperoleh, memiliki, dan tentunya menguasai sesuatu yang dia dambakan. dan sebaliknya, batinnya akan tersiksa jika sesuatu itu tidak dia miliki atau tidak tunduk padanya. inilah yang aku sebut sebagai 'ketertindasan'. pikiran selalu digelayuti oleh nafsu berupa tekanan-tekanan untuk memuaskan diri sendiri.
inilah ego. ego yang membuat orang melakukan tindakan di luar lingkaran cinta. ego yang lebih berorientasi pada diri sendiri tanpa mau peduli terhadap impak yang ditimbulkannya kemudian.
cinta dengan modus "memiliki" adalah cinta yang dangkal. pun kalau mencapai kepuasan, itu hanya sebatas orgasme cinta yang semu. cinta seperti ini tidak akan mampu membawa seseorang pada kebahagiaan hakiki. terlampau absurd manakala kebahagiaan digantungkan pada sesuatu yang ternyata malah memenjarakan kehidupan.
lawan dari pola hidup memiliki adalah pola hidup "menjadi" (to be). pencinta sejati menganut pola hidup seperti ini. ia tidak menggantungkan kebahagiaan hidup pada kepemilikan. ia akan mencintai secara aktif dan kreatif. inilah yang pernah aku katakan sebagai kemampuan untuk mencintai tanpa adanya pretensi apapun, termasuk pengharapan untuk dicintai. ia akan mengerahkan segenap energinya untuk membahagiakan yang dicintainya. tulus. setulus-tulusnya.
sahabatku yang baik,
cinta itu memerdekakan. membebaskan dari segala jerat dan kungkungan yang memenjarakan jiwa. ketika kita "berada" dalam cinta --dan bukan sekedar "jatuh cinta"--, selayaknya kita memperoleh kemerdekaan itu. namun, jika yang terjadi justru ketertindasan, dalam bentuk apapun, maka pemahaman akan cinta itu perlu dikaji ulang. sebab cinta, kata muhidin lagi, tidak akan dapat hidup berdampingan dengan alam ketertindasan. cinta sejati tidak akan mungkin dapat tumbuh di ruang yang antitesis dengannya.
dari apa yang pernah kita perbincangkan, sepertinya kamu belum sepenuhnya mampu membebaskan diri. kamu --maaf-- belum merdeka.
apa tandanya kamu belum sepenuhnya merdeka?
banyaknya keinginan. ya, kamu memproduksi dan menimbun keinginan yang makin menggunung.
bukan berarti kita tidak boleh memiliki harapan dan keinginan. kita boleh, bahkan mesti memilikinya. kenapa? seperti yang pernah aku kemukakan sebelumnya, kita adalah manusia biasa. sangat biasa. kita harus tetap menanam harapan. sebab manusia tanpa harapan, ia mayat berjalan, begitu seorang budayawan pernah berkata.
namun di tengah kepungan harapan itu, entah sadar atau tidak, kamu telah melahirkan fantasi-fantasi yang entah. dan ketika fantasi-fantasi itu tak juga meng-ada dalam ruang hidupmu, aku takut kalau kamu tak lagi memiliki energi untuk berharap.
sekian dulu. maaf kalau terlalu panjang dan terkesan meng-khutbah.
-- muhidin m. dahlan
kamu pernah menanyakan arti cinta. sebuah tema purba yang masih saja sering diperbincangkan, bahkan diperdebatkan. dan sepertinya dialektika itu akan selamanya mengabadi.
aku tidak tahu persis apa itu cinta.
pun kalau aku tahu, cinta yang aku pahami bisa saja berbeda dengan cinta yang kamu maksud. ya, ada beragam jenis cinta. beragam pula definisinya. tergantung dari sudut mana individu memandang, lalu memaknainya.
erich fromm pernah mengemukakan ada dua modus yang berhubungan dengan eksisitensi manusia dalam menjalani hidupnya. pertama, modus "memiliki" (to have). seseorang dengan pola hidup "to have" merasa bahagia, atau lebih tepatnya, senang -- sebab bahagia dan senang hakikatnya berbeda-- manakala memperoleh, memiliki, dan tentunya menguasai sesuatu yang dia dambakan. dan sebaliknya, batinnya akan tersiksa jika sesuatu itu tidak dia miliki atau tidak tunduk padanya. inilah yang aku sebut sebagai 'ketertindasan'. pikiran selalu digelayuti oleh nafsu berupa tekanan-tekanan untuk memuaskan diri sendiri.
inilah ego. ego yang membuat orang melakukan tindakan di luar lingkaran cinta. ego yang lebih berorientasi pada diri sendiri tanpa mau peduli terhadap impak yang ditimbulkannya kemudian.
cinta dengan modus "memiliki" adalah cinta yang dangkal. pun kalau mencapai kepuasan, itu hanya sebatas orgasme cinta yang semu. cinta seperti ini tidak akan mampu membawa seseorang pada kebahagiaan hakiki. terlampau absurd manakala kebahagiaan digantungkan pada sesuatu yang ternyata malah memenjarakan kehidupan.
lawan dari pola hidup memiliki adalah pola hidup "menjadi" (to be). pencinta sejati menganut pola hidup seperti ini. ia tidak menggantungkan kebahagiaan hidup pada kepemilikan. ia akan mencintai secara aktif dan kreatif. inilah yang pernah aku katakan sebagai kemampuan untuk mencintai tanpa adanya pretensi apapun, termasuk pengharapan untuk dicintai. ia akan mengerahkan segenap energinya untuk membahagiakan yang dicintainya. tulus. setulus-tulusnya.
sahabatku yang baik,
cinta itu memerdekakan. membebaskan dari segala jerat dan kungkungan yang memenjarakan jiwa. ketika kita "berada" dalam cinta --dan bukan sekedar "jatuh cinta"--, selayaknya kita memperoleh kemerdekaan itu. namun, jika yang terjadi justru ketertindasan, dalam bentuk apapun, maka pemahaman akan cinta itu perlu dikaji ulang. sebab cinta, kata muhidin lagi, tidak akan dapat hidup berdampingan dengan alam ketertindasan. cinta sejati tidak akan mungkin dapat tumbuh di ruang yang antitesis dengannya.
dari apa yang pernah kita perbincangkan, sepertinya kamu belum sepenuhnya mampu membebaskan diri. kamu --maaf-- belum merdeka.
apa tandanya kamu belum sepenuhnya merdeka?
banyaknya keinginan. ya, kamu memproduksi dan menimbun keinginan yang makin menggunung.
bukan berarti kita tidak boleh memiliki harapan dan keinginan. kita boleh, bahkan mesti memilikinya. kenapa? seperti yang pernah aku kemukakan sebelumnya, kita adalah manusia biasa. sangat biasa. kita harus tetap menanam harapan. sebab manusia tanpa harapan, ia mayat berjalan, begitu seorang budayawan pernah berkata.
namun di tengah kepungan harapan itu, entah sadar atau tidak, kamu telah melahirkan fantasi-fantasi yang entah. dan ketika fantasi-fantasi itu tak juga meng-ada dalam ruang hidupmu, aku takut kalau kamu tak lagi memiliki energi untuk berharap.
sekian dulu. maaf kalau terlalu panjang dan terkesan meng-khutbah.
Rabu, 16 Juni 2010
.:: ingin menyapamu senja ini
ini bukan tentang aku, dia , mereka, atau kalian semua. ini tentang kamu dan dirimu.
kamu dengan segala kisah yang menyertai hidupmu. kamu dengan segala kebajikan serta kebejatan yang mengesankan.
seperti yang kau ketahui sebelumnya, aku bukanlah seseorang dengan ingatan yang baik. mudah bagiku untuk (tidak) sengaja melupakan apa atau siapa yang kutemui beberapa detik sebelumnya.
entah apakah aku seorang pelupa, sombong, atau apapun namanya. dan terserah juga kau menyebutnya bagaimana. yang pasti aku tak ingin memenuhi memori di otakku dengan segala hal yang tak terlampau penting.
lalu apakah kau adalah satu dia antara sekian hal yang tidak penting yang kusebutkan? kukira kau bisa menerkanya.
dan setelah semua memori ke-kita-an kita terhapus dan tak lagi terdengar gaungnya di jagad raya, kini kumengalami sindrom kerinduan yang luar biasa. mungkin itulah sebab kenapa aku ingin menyapamu senja ini.
salam,
Selasa, 08 Juni 2010
:: Ada Apa dengan Miyabi?
Sebuah pertanyaan bias, hingga kemudian mampu menghadirkan ribuan jawaban yang tentu saja tak seragam. Tergantung siapa dan bagaimana memaknainya.
Ada apa dengan miyabi?
Perempuan jepang satu ini sempat menjadi buah bibir di sebagian wilayah negeri. Orang-orang suci sudah terlanjur memberinya cap sebagai penjahat. Karena penjahat, ia layak dihujat. Dan karena penjahat, adalah merupakan sebuah kejahatan jika membiarkannya ikut serta dalam dunia seni-budaya bangsa.
Ada apa dengan miyabi?
Entahlah. Aku belum berwenang untuk menjawabnya. Salah satu penyebabnya adalah aku bukan satu dari sekian orang suci itu.
Ya, Ini dia!
Kesucian.
Bisa jadi kesucian menjadi alasan kenapa wanita cantik yang satu ini haram memasuki negeri.
Hanya saja, jika kesucian menjadi alasan timbulnya hujatan, jika kesucian menjadi titik pangkal munculnya isu ini, maka
pertanyaannya kemudian adalah, kenapa harus miyabi?
Ya, kenapa harus miyabi yang menjadi objek luapan caci-maki?
Sabtu, 08 Mei 2010
:: sekuntum harapan
"every rose has it thorn,"
sebuah lagu dari Poison mengingatkanku pada sebuah topik yg pernah kita perbincangkan. pernah kita perdebatkan. dan hingga detik ini, kita, aku dan kamu, belum juga menyepakati sebuah kesimpulan.
kuyakin kau masih mengingatnya.
ya. harapan.
aku menganalogikan segenggam harapan dengan sekuntum mawar. harapan adalah mawar, lengkap dengan duri yang dimiliki.
ia menawan. ia menggoda. ia memesona. bisa saja kita mencium harumnya. namun jika tak hati-hati, duri tajamnya akan menusuk dan menorehkan luka perih mendalam. hal yang menarik, bukan?
Minggu, 02 Mei 2010
"aku, buku, dan sepotong sajak cinta"
kubaca kembali sebuah buku yang dulu pernah kuanggap sebagai kitab hidupku. ya, "aku, buku, dan sepotong sajak cinta". buku karangan muhidin m. dahlan terbitan tahun 2004 ini menjadi semacam tetirah yang mampu memaksaku untuk mendekonstruksi semua pemikiran dan pemahaman akan kehidupan.
lewat buku ini, gus muh (sapaan muhidin m. dahlan) mengajarkan banyak hal; perjuangan hidup, kisah cinta yang tragis, pengkhianatan, topeng palsu orang-orang "suci", serta bagaimana meneguhkan segenggam keyakinan.
aku tak seheroik tokoh yang digambarkan di dalamnya. aku mengamini semangat yang dibawanya, dan tentu saja, menghormati kompleksitas ke-diri-annya; kebajikan serta kebejatan yang dia lakukan.
tabik, gus muh!
Sabtu, 01 Mei 2010
.:: kaulah setan kecil itu
aku masih terus mencari nama yang tepat untukmu. nama yang mampu mewakili hakikat diri, lengkap dengan sifat dan sikap yang kau miliki. tentu semua itu tergantung persepsiku. oleh karenanya, tak perlu marah jika kau tak suka.
ternyata nama yang dahulu pernah kusematkan padamu, belum mampu menunjukkan sejatinya ke-diri-anmu.
setiap ke-diri-an akan mengalami pergeseran. dan aku mesti mencari nama yang berbeda dari sebelumnya. ya, hal itu dikarenakan kau juga menjadi persona yang berbeda dari sebelumnya.
seperti sekarang ini. aku menemukan nama yang tepat yang akan kugunakan untuk menyapamu. tak terlampau istimewa. tapi kuberharap kau akan suka. semoga saja.
bukankah begitu, setan kecilku?
ternyata nama yang dahulu pernah kusematkan padamu, belum mampu menunjukkan sejatinya ke-diri-anmu.
setiap ke-diri-an akan mengalami pergeseran. dan aku mesti mencari nama yang berbeda dari sebelumnya. ya, hal itu dikarenakan kau juga menjadi persona yang berbeda dari sebelumnya.
seperti sekarang ini. aku menemukan nama yang tepat yang akan kugunakan untuk menyapamu. tak terlampau istimewa. tapi kuberharap kau akan suka. semoga saja.
bukankah begitu, setan kecilku?
Langganan:
Postingan (Atom)





